Beberapa tahun yang lalu, kita menyaksikan fenomena di mana brand-brand besar mulai keluar dari zona nyaman mereka. Jika dulu sebuah perusahaan hanya fokus berjualan produk, pasca pandemi COVID-19 dan berbagai gejolak sosial global, konsumen mulai menuntut lebih. Mereka ingin tahu: “Di pihak mana brand ini berdiri?”
Di Indonesia, kita melihat tren serupa. Mulai dari brand skincare lokal yang menyuarakan dukungan terhadap isu lingkungan, hingga raksasa teknologi seperti Gojek atau Tokopedia yang menunjukkan keberpihakan pada isu pemberdayaan UMKM dan kesetaraan gender. Namun, pertanyaannya tetap sama: Apakah berpihak pada isu sosial benar-benar berdampak positif bagi bisnis, atau justru menjadi bumerang yang memicu boikot?
Evolusi Brand Activism: Dari “Ikut-ikutan” Menjadi Strategi Terukur
Dahulu, strategi paling aman bagi brand adalah tetap netral. Prinsipnya sederhana: “Jangan bahas politik atau agama kalau mau jualan.” Namun, arus media sosial mengubah segalanya. Brand tiba-tiba dipaksa menjadi pusat aktivisme digital. Jika sebuah isu besar sedang viral dan sebuah brand diam saja, mereka berisiko dianggap tidak peduli atau bahkan “dibatalkan” (cancelled) oleh netizen.
Namun, muncul masalah baru yang disebut sebagai performative activism. Ini adalah kondisi di mana brand hanya ikut-ikutan tren—seperti sekadar mengganti foto profil menjadi pelangi atau hitam—tanpa ada aksi nyata di lapangan. Konsumen di Indonesia semakin cerdas; mereka bisa mencium mana brand yang tulus dan mana yang hanya sekadar mencari panggung untuk jualan.
Kabar menariknya, menurut laporan terbaru, pendulum mulai berayun kembali. Data menunjukkan bahwa sekitar 67% pengguna media sosial merasa brand tetap harus merespons isu sosial dan politik, setidaknya pada momen-momen tertentu. Namun, cara penyampaiannya kini harus jauh lebih hati-hati dan relevan.
Memahami Psikologi Konsumen Indonesia Saat Ini
Jika kita membandingkan data tahun 2019 dengan kondisi sekarang, ada pergeseran besar. Dulu, 70% konsumen merasa sangat penting bagi brand untuk mengambil sikap. Kini, angkanya turun menjadi sekitar 24%. Mengapa? Karena konsumen sudah lelah dengan janji manis yang tidak diikuti bukti.
Di Indonesia, konteks ini sangat terasa. Masyarakat kita lebih menghargai brand yang memberikan solusi nyata. Misalnya, daripada sekadar membuat kampanye “Cintai Bumi”, konsumen lebih menghargai brand yang menyediakan titik drop-off sampah plastik di gerai mereka atau menggunakan kemasan ramah lingkungan yang praktis.
Siapa yang Paling Peduli?
Generasi Z (Gen Z) adalah motor penggerak utama tren ini. Sebagai generasi yang lahir di era informasi, mereka cenderung memilih produk dari perusahaan yang memiliki nilai-nilai (values) yang selaras dengan mereka. Jika Anda menyasar pasar anak muda di Shopee atau TikTok, memiliki “sikap” terhadap isu tertentu bisa menjadi keunggulan kompetitif yang kuat.
Kapan Brand Harus Bicara dan Kapan Harus Diam?
Sebagai ahli pemasaran, saya sering menyarankan pemilik UMKM maupun brand besar untuk tidak reaktif. Jangan karena sebuah isu sedang viral di Twitter (X), Anda langsung menyuruh tim kreatif membuat konten dukungan. Ajukan pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dahulu:
1. Apakah Isu Ini Relevan dengan Industri Kita?
Sekitar 25% konsumen berpendapat bahwa brand sebaiknya hanya bersuara jika isu tersebut berkaitan langsung dengan industri mereka. Misalnya, jika Anda adalah brand kopi, membicarakan tentang kesejahteraan petani kopi sangatlah masuk akal. Namun, jika Anda menjual gadget tetapi tiba-tiba berkomentar tentang isu geopolitik yang jauh, audiens mungkin akan bingung.
2. Bisakah Kita Menjadi Bagian dari Solusi?
Seperti yang dikatakan pakar pemasaran Nathan Jun Poekert, jika Anda tidak bisa mengatasi akar masalahnya, terkadang lebih baik tidak mengeluarkan pernyataan sama sekali. Pernyataan tanpa aksi adalah “kebisingan” yang tidak perlu.
3. Bagaimana Dampaknya terhadap Komunitas Lokal?
Isu global memang penting, tetapi isu yang berdampak langsung pada komunitas di sekitar bisnis Anda jauh lebih krusial. Misalnya, brand ritel yang membantu korban bencana alam di wilayah operasionalnya di Indonesia akan dipandang jauh lebih autentik daripada brand yang hanya memposting kutipan motivasi global.
Strategi Menghadapi Aktivisme Influencer
Tidak hanya brand, influencer atau KOL (Key Opinion Leader) yang Anda ajak kerja sama juga memegang peranan penting. Data menunjukkan 87% konsumen berharap influencer berani menyuarakan nilai-nilai mereka. Namun, di tahun 2026 diprediksi konsumen akan lebih menyukai influencer yang fokus pada bidang keahliannya.
Jika Anda bekerja sama dengan influencer kecantikan untuk mempromosikan produk di TikTok, Anda mungkin lebih ingin mereka bersuara tentang standar kecantikan yang sehat atau isu animal testing, daripada isu politik praktis yang bisa memecah belah pengikut mereka.
Ringkasan: Key Takeaways untuk Strategi Brand Anda
- Autentisitas adalah Kunci: Jangan pernah melakukan aktivisme hanya untuk marketing. Konsumen Indonesia sangat peka terhadap ketidaktulusan.
- Fokus pada Relevansi: Bicaralah pada isu yang bersinggungan dengan operasional bisnis atau nilai inti perusahaan Anda.
- Aksi di Atas Kata-kata: Berikan kontribusi nyata, misalnya donasi melalui platform seperti Kitabisa atau program pemberdayaan UMKM lokal.
- Segmentasi Audiens: Pahami bahwa Gen Z lebih menuntut keberpihakan dibandingkan generasi Boomers atau Gen X yang mungkin lebih suka brand tetap netral.
- Hindari Reaksi Spontan: Selalu buat analisis risiko sebelum mengunggah pernyataan tentang isu sensitif.
Tips Praktis untuk Brand dan UMKM Indonesia
- Buat “Value Statement” Internal: Sebelum isu muncul, tentukan apa yang diperjuangkan bisnis Anda. Apakah itu pemberdayaan perempuan? Lingkungan hidup? Atau pendidikan? Ini akan menjadi kompas Anda saat ada isu sosial yang muncul.
- Gunakan Bahasa yang Membumi: Hindari istilah-istilah aktivisme global yang sulit dipahami. Gunakan bahasa Indonesia yang santai dan dekat dengan keseharian audiens Anda di Instagram atau Facebook.
- Terlibat dengan Komunitas: Daripada hanya beriklan, cobalah untuk benar-benar terlibat dalam masalah sosial yang dihadapi pelanggan Anda. Misalnya, jika Anda berjualan makanan, buat program “beli satu berbagi satu” untuk panti asuhan setempat.
- Pantau Sentimen: Gunakan social listening tools untuk melihat bagaimana tanggapan netizen terhadap isu tertentu sebelum Anda memutuskan untuk ikut serta.
Kesimpulannya, mengambil sikap dalam isu sosial bukan lagi tentang mengikuti tren, melainkan tentang membangun hubungan yang lebih dalam dan bermakna dengan pelanggan Anda. Di tengah persaingan pasar yang ketat di marketplace seperti Tokopedia atau Lazada, nilai-nilai yang Anda pegang teguh bisa menjadi alasan utama mengapa pelanggan memilih Anda dibandingkan kompetitor.
Referensi artikel asli: Klik disini