Siapa yang tidak kenal Canva? Mulai dari mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas presentasi, admin media sosial olshop di Shopee, hingga pemilik UMKM yang ingin membuat logo estetik, hampir semuanya mengandalkan aplikasi ini. Dengan lebih dari 265 juta pengguna di 190 negara, Canva telah bertransformasi dari sekadar alat desain menjadi raksasa budaya digital.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana sebuah brand asal Australia bisa terasa begitu “dekat” dengan penggunanya di Indonesia, Brasil, hingga Inggris? Jawabannya bukan sekadar algoritma, melainkan strategi social media marketing yang sangat jenius.

Lachlan Stewart, Social Lead di Canva, baru-baru ini membocorkan “dapur” strategi mereka. Ternyata, kunci sukses Canva bukanlah mencoba menjadi brand global yang kaku, melainkan menjadi brand yang sangat lokal (hyper-local). Mari kita bedah bagaimana strategi ini bisa Anda terapkan untuk melejitkan bisnis Anda di pasar Indonesia.

1. Strategi “Hyper-Local”: Berbicara dengan Bahasa Audiens

Lachlan Stewart menekankan satu kata kunci: Lokal. “Jika Anda melihat Canva di berbagai negara, Anda akan melihat orang-orang nyata dan cerita nyata dari pasar tersebut,” ujarnya. Canva tidak sekadar menerjemahkan teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia menggunakan mesin pencari.

Di Indonesia, kita bisa melihat bagaimana Canva sangat adaptif. Mereka menyediakan template khusus untuk Hari Raya Idul Fitri, desain promosi ala “Flash Sale” Tokopedia, hingga konten-konten yang menggunakan gaya bahasa gaul yang sedang tren di Twitter (X) atau TikTok Indonesia. Mereka ingin memastikan bahwa saat orang Indonesia membuka aplikasi, mereka merasa, “Wah, ini gue banget!”

Mengapa ini penting untuk bisnis Anda?

Banyak brand lokal yang terlalu fokus ingin terlihat “keren” dan “internasional” sehingga lupa pada akar budayanya. Padahal, audiens Indonesia sangat menyukai konten yang relevan dengan keseharian mereka. Jika Anda berjualan sambal rumahan, jangan hanya menggunakan foto estetik ala kafe di Paris. Gunakan konteks makan siang di kantor atau momen kumpul keluarga saat lebaran. Relevansi adalah mata uang tertinggi di media sosial.

2. Bukan Sekadar Ikut Tren, Tapi Menciptakan Percakapan

Salah satu poin menarik dari Lachlan adalah filosofi Canva dalam menyikapi tren. Alih-alih hanya melakukan newsjacking (ikut-ikutan apa yang viral), Canva lebih suka menjadi pemantik percakapan budaya (cultural conversation).

Lachlan mencontohkan kampanye mereka di Brasil. Mereka berkolaborasi dengan juri MasterChef Brasil yang berkebangsaan Prancis. Meskipun dia berbicara bahasa Portugis, audiens seringkali butuh teks (subtitle) untuk memahaminya karena logatnya yang kental. Canva kemudian menggunakan momen ini untuk mempromosikan fitur auto-caption mereka. Mereka mengambil candaan yang sudah ada di masyarakat dan menjadikannya momen pemasaran yang brilian.

Di Inggris, mereka bekerja sama dengan bintang reality show Gemma Collins dan menjadikannya “Creative Director” bayangan di LinkedIn. Hal ini memicu kehebohan karena orang-orang mengira Gemma benar-benar bekerja di kantor Canva. Strategi ini belum pernah dilakukan brand lain sebelumnya.

Tips untuk Brand Indonesia:

Jangan hanya menggunakan lagu TikTok yang sedang viral tanpa konsep. Coba cari apa yang sedang menjadi keresahan atau bahan obrolan hangat di kalangan audiens Anda. Misalnya, jika Anda brand skincare, buatlah konten tentang “Wajah Kusam karena Polusi Jakarta” daripada sekadar tutorial pakai serum biasa. Jadilah brand yang memulai diskusi, bukan sekadar penggembira.

3. Hiburan Adalah Prioritas (Social-First Content)

Canva memahami bahwa media sosial adalah tempat orang mencari hiburan, bukan tempat orang ingin diceramahi. Oleh karena itu, Canva menerapkan prinsip hiburan dalam setiap kontennya, bahkan untuk konten edukasi sekalipun.

Lachlan menjelaskan bahwa saat mereka memposting tutorial (yang biasanya membosankan), mereka akan menambahkan caption yang nakal (cheeky), lucu, dan terasa sangat manusiawi. Mereka menggunakan elemen desain yang sedang tren agar konten tersebut layak dibagikan (shareable).

Cara Menerapkannya:

  • Gunakan Humor: Orang Indonesia sangat menyukai humor receh atau meme. Jangan ragu menyisipkan sedikit komedi dalam konten promosi Anda.
  • Interaksi Manusiawi: Balaslah komentar audiens dengan gaya bahasa yang santai, seperti sedang mengobrol dengan teman, bukan seperti robot Customer Service.
  • Visual yang Menarik: Pastikan 3 detik pertama video Anda atau slide pertama komidi putar (carousel) Anda mampu menghentikan jempol audiens yang sedang scrolling.

4. Berikan Media Sosial “Kursi” di Meja Strategi

Seringkali, tim media sosial hanya dianggap sebagai tim “pelaksana” yang bertugas memposting konten setelah strategi besar dibuat oleh manajemen. Di Canva, hal ini tidak berlaku. Lachlan menekankan bahwa tim media sosial dilibatkan sejak awal perencanaan kampanye.

Kenapa? Karena orang media sosial adalah mereka yang paling tahu apa yang sedang terjadi di lapangan. Mereka tahu apa yang disukai audiens, apa yang sedang dibicarakan, dan apa yang akan gagal. Dengan melibatkan tim sosial sejak dini, kampanye yang dihasilkan akan jauh lebih tajam dan efektif.

Ringkasan Strategi Sukses Canva:

  • Hyper-Localization: Jangan hanya menerjemahkan, tapi sesuaikan konteks konten dengan budaya lokal tempat Anda berjualan.
  • Cultural Conversation: Ciptakan tren baru dengan memanfaatkan “joke” atau kebiasaan lokal yang sudah ada.
  • Entertainment First: Pastikan konten edukasi atau promosi Anda tetap memiliki nilai hiburan agar audiens tidak bosan.
  • Collaboration: Libatkan admin media sosial dalam pengambilan keputusan strategis karena mereka adalah “mata dan telinga” brand Anda.
  • Authenticity: Gunakan cerita dari orang asli dan kasus nyata agar audiens merasa terhubung secara emosional.

Tips Praktis untuk Pelaku Usaha di Indonesia

Bagi Anda yang sedang membangun brand di pasar Indonesia yang sangat kompetitif, berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa Anda lakukan berdasarkan strategi Canva:

A. Gunakan “Bahasa Ibu” dalam Konten

Jika target pasar Anda adalah ibu-ibu di Jawa Tengah, menggunakan bahasa Indonesia formal mungkin terasa kaku. Cobalah gunakan sedikit selipan bahasa daerah atau istilah yang akrab di telinga mereka. Ini akan menciptakan kedekatan instan.

B. Manfaatkan Platform yang Tepat

Canva sangat aktif di berbagai platform dengan gaya yang berbeda. Di Indonesia, jangan lewatkan kekuatan TikTok untuk konten viral, Instagram untuk visual yang estetik, dan grup WhatsApp atau komunitas Telegram untuk loyalitas pelanggan. Gunakan Canva untuk membuat aset visual yang seragam namun tetap sesuai karakter masing-masing platform.

C. Kolaborasi dengan Influencer Lokal (Micro-Influencer)

Anda tidak butuh budget miliaran untuk menyewa artis papan atas. Canva seringkali sukses karena menggunakan cerita dari pengguna nyata. Cobalah berkolaborasi dengan micro-influencer yang memiliki audiens loyal di ceruk pasar Anda (misalnya: influencer khusus masak, khusus otomotif, atau khusus kecantikan).

D. Fokus pada Solusi, Bukan Fitur

Canva tidak selalu berjualan “Ini adalah fitur hapus background”. Mereka berjualan “Ingin foto produk Anda terlihat profesional di Shopee hanya dalam satu klik?”. Fokuslah pada bagaimana produk Anda mempermudah hidup pelanggan Anda.

Kesimpulannya, kesuksesan Canva bukan hanya karena aplikasinya yang mudah digunakan, tapi karena cara mereka berkomunikasi yang sangat manusiawi dan menghargai keberagaman budaya. Dengan menerapkan strategi hyper-local dan mengutamakan hiburan, brand kecil sekalipun memiliki kesempatan untuk menjadi besar dan dicintai oleh audiensnya.

Referensi artikel asli: Klik disini