Setahun terakhir, dunia digital marketing diramaikan oleh perbincangan hangat seputar kecerdasan buatan (AI). Banyak pakar SEO yang dengan percaya diri membagikan teori tentang bagaimana cara agar bisnis kita bisa muncul di hasil pencarian AI seperti ChatGPT, Perplexity, atau Google AI Overview (SGE). Namun, sayangnya, sangat sedikit data riil yang bisa membuktikan asumsi-asumsi tersebut.
Untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, sebuah studi mendalam dilakukan oleh agensi SEO global, Victorious. Mereka menganalisis korelasi antara performa pencarian organik tradisional (Google Search biasa) dengan tingkat kemunculan brand di mesin pencari berbasis AI. Hasilnya? Sangat mengejutkan dan bisa menjadi peluang emas bagi para pelaku bisnis serta UMKM di Indonesia yang ingin colong start!
—
Metodologi Riset: Bagaimana Data Ini Dikumpulkan?
Untuk membandingkan performa brand di mesin pencari tradisional vs mesin pencari AI, riset ini menggunakan data riil dari 177 brand yang terbagi dalam lima sektor industri utama: Kesehatan, SaaS (Software as a Service), Jasa Keuangan, E-commerce/Retail, dan Jasa Hukum.
Riset ini dilakukan melalui empat tahapan sistematis:
- Menentukan Sampel Brand: Memilih 177 brand representatif dari berbagai skala bisnis di lima industri tersebut.
- Menguji Visibilitas AI: Menguji perintah (prompt) spesifik industri di delapan platform AI terkemuka, yaitu ChatGPT, Perplexity, Gemini, Google AI Overview, Google AI Mode, Microsoft Copilot, Claude, dan Meta AI. Total ada 107.011 respons AI yang dianalisis. Peneliti mencatat dua hal penting: apakah brand tersebut disebut namanya (mention) dan apakah link website brand tersebut dicantumkan sebagai sumber rujukan (citation).
- Menarik Data Performa Organik: Melacak performa organik level domain menggunakan Semrush untuk melihat tren traffic dan *Authority Score* (skor otoritas website).
- Silang Data (Cross-Reference): Menghubungkan metrik visibilitas AI dengan data organik tradisional guna melihat hubungan antara sinyal ranking Google biasa dengan performa di mesin pencari AI.
—
Temuan Mengejutkan: 90% Brand Belum Tersentuh AI
Dari 177 brand yang diuji, hanya 18 brand yang memiliki tingkat kemunculan (mention rate) di atas 0%. Ini berarti, sekitar 89,8% brand yang diuji benar-benar “gaib” alias tidak eksis sama sekali di dalam jawaban yang diberikan oleh delapan platform AI tersebut.
Temuan ini mematahkan narasi luar yang mengesankan bahwa persaingan AI SEO sudah sangat jenuh dan terlambat untuk dimasuki. Faktanya, bagi sebagian besar brand, kompetisi ini bahkan belum dimulai! Bagi Anda pemilik bisnis kuliner, fashion lokal, SaaS lokal, atau UMKM di Indonesia, ini adalah kabar baik. Peluang untuk mendominasi AI Search di industri Anda masih terbuka sangat lebar.
—
Bagaimana Perilaku AI Menilai Brand Berdasarkan Sektor Industri?
Studi ini menemukan bahwa performa visibilitas AI sangat bergantung pada karakteristik industri masing-masing brand. Berikut adalah analisis mendalamnya:
1. Sektor Finansial, SaaS, dan Kesehatan
Brand di tiga industri ini secara konsisten lebih sering muncul dan dirujuk oleh AI. Mengapa? Karena platform AI sangat menyukai data yang terstruktur dan validasi pihak ketiga:
- Kesehatan: AI menyukai entitas yang jelas (seperti nama dokter, lokasi klinik, spesialisasi, dan jaringan rumah sakit). Sinyal-sinyal ini memperkuat kredibilitas di mata AI.
- SaaS (Software): Brand software sering kali dibahas di platform review pihak ketiga seperti G2, Reddit, atau LinkedIn. AI membaca diskusi pengguna ini untuk merekomendasikan software terbaik.
- Finansial: Industri ini diuntungkan oleh liputan media kredibel. AI sering mengambil jawaban dari portal berita keuangan terpercaya untuk menjawab pertanyaan pengguna yang sensitif.
2. Sektor E-Commerce (Kasus Shopee, Tokopedia, dan Brand Lokal)
Di sektor e-commerce, terjadi jurang pemisah yang besar. Brand retail sering kali dikenali oleh AI, namun link sumber rujukannya (citation) bukan mengarah ke website resmi brand tersebut, melainkan ke marketplace raksasa (seperti Shopee, Tokopedia, atau Lazada) atau forum diskusi seperti Reddit dan Kaskus.
Tantangan terbesar bagi brand e-commerce lokal di Indonesia saat ini adalah bagaimana membuat konten di website sendiri yang cukup berharga dan berotoritas tinggi agar AI mau mencantumkan link website resmi kita, bukan malah merekomendasikan link toko kita di Shopee atau Tokopedia.
3. Sektor Jasa Hukum
Kondisi di sektor hukum justru kebalikan dari e-commerce. AI sangat sering mengambil artikel edukasi hukum dari website kantor pengacara, namun AI jarang sekali menyebut nama brand atau nama kantor hukum tersebut di dalam jawabannya. Mereka mengambil informasinya tanpa memberikan kredit brand (sebutan langsung).
—
Tips Praktis Mengoptimalkan Website Anda untuk AI Search (AIO / GEO)
Untuk Anda para praktisi SEO dan pemilik bisnis di Indonesia, berikut adalah langkah konkret yang bisa langsung Anda terapkan agar website Anda dilirik oleh ChatGPT, Gemini, dkk:
- Gunakan Schema Markup (Structured Data): Bantu AI memahami siapa Anda, apa produk Anda, dan di mana lokasi Anda dengan memasang Schema Markup (seperti LocalBusiness, Product, atau Organization) yang rapi di website Anda.
- Perbanyak Review dan Diskusi di Luar Website (Off-Page): AI tidak hanya membaca website Anda, tapi juga membaca apa kata orang lain tentang Anda. Dorong pelanggan Anda untuk memberikan review di Google Maps (Google My Business), forum lokal (seperti Kaskus atau Female Daily), dan media sosial.
- Tulis Konten Berbasis Data dan Riset Orisinal: AI sangat menyukai data statistik, infografis, dan hasil wawancara mendalam. Jika Anda menyajikan data unik yang tidak dimiliki kompetitor, AI akan dengan senang hati mencantumkan link website Anda sebagai sumber rujukan utama.
- Lakukan PR (Public Relations) Digital: Cobalah untuk mendapatkan publikasi atau liputan dari media online nasional terpercaya di Indonesia (seperti Detik, Kompas, atau Kumparan). Backlink dan sebutan dari media besar adalah sinyal otoritas terkuat bagi algoritma AI.
—
Ringkasan Insights untuk Praktisi SEO Indonesia
- Peluang Masih Terbuka Lebar: Hampir 90% brand belum mengoptimalkan website mereka untuk AI Search. Ini saat yang tepat untuk mencuri start dari kompetitor Anda.
- Sebutkan vs Rujuk (Mention vs Citation): Memiliki popularitas saja tidak cukup. Website Anda harus memiliki otoritas informasi agar AI bersedia memberikan link rujukan langsung ke domain Anda.
- E-Commerce Harus Mandiri: Jangan hanya bergantung pada platform Shopee atau Tokopedia. Bangun aset digital (website resmi) Anda sendiri dengan konten edukatif agar tidak kehilangan traffic langsung dari AI Search.
- Fokus pada Kredibilitas Sinyal (Entity): Perjelas profil bisnis Anda di internet agar mesin kecerdasan buatan dapat mengenali brand Anda sebagai entitas yang sah dan terpercaya.
Di era kecerdasan buatan ini, strategi SEO tidak lagi hanya sekadar menembak kata kunci di halaman pertama Google. Kita harus mulai berpikir bagaimana caranya agar brand kita menjadi bagian dari “pengetahuan” yang dipelajari oleh model-model kecerdasan buatan dunia. Mulailah optimasi website Anda dari sekarang!
Referensi artikel asli: Klik disini