082129074268 yunus@black-box.co.id

Pernahkah Anda menyadari ada yang berubah saat sedang scrolling di TikTok, Instagram Reels, atau Shopee Video? Beberapa tahun lalu, media sosial kita didominasi oleh feed Instagram yang super estetik, foto-foto liburan mewah di Maldives, atau pamer barang-barang branded yang harganya bikin geleng-geleng kepala. Konten seperti itu dulu sangat diminati karena menjual mimpi dan aspirasi.

Namun, coba lihat tren hari ini. Konten yang viral justru adalah video “unboxing belanjaan bulanan hemat”, “rekomendasi skincare murah di bawah 50 ribu”, hingga “dupe parfum mewah versi lokal yang ramah kantong”. Di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian saat ini, perilaku konsumen telah bergeser secara drastis. Era pamer kemewahan (flexing) mulai digantikan oleh era realitas yang membumi dan hemat anggaran.

Bagaimana pergeseran tren ini mengubah lanskap influencer marketing? Dan bagaimana pemilik bisnis atau UMKM di Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini? Mari kita bahas selengkapnya.

Mengapa Gaya Hidup “Mendang-Mending” Kini Lebih Menjual?

Istilah “kaum mendang-mending” sangat akrab di telinga netizen Indonesia. Istilah ini merujuk pada konsumen yang sangat kritis dalam membandingkan harga dan nilai suatu produk sebelum membeli. Di tengah inflasi dan biaya hidup yang meningkat, konsumen tidak lagi mencari sosok influencer yang hidup di “menara gading” dengan gaya hidup yang tidak realistis.

Sebaliknya, mereka mencari sosok yang senasib dengan mereka. Konsumen lebih menyukai kreator konten yang membagikan tips menghemat uang belanja di supermarket lokal seperti Superindo atau Alfamart, merekomendasikan alternatif produk murah dari Miniso atau MR.DIY, atau membagikan ulasan jujur produk kosmetik lokal yang harganya ramah di dompet pelajar.

Hubungan emosional yang terbangun karena rasa “senasib” inilah yang membuat promosi produk menjadi jauh lebih efektif. Ketika seorang influencer yang dikenal hemat merekomendasikan suatu produk sebagai “investasi terbaik dengan harga murah”, pengikut mereka akan langsung percaya tanpa ragu.

Data Membuktikan: Konsumen Lebih Percaya Manusia daripada Iklan

Berdasarkan riset pasar digital terbaru, peran influencer dalam mengarahkan keputusan belanja masyarakat masih sangat kuat, bahkan justru semakin krusial di masa-masa sulit seperti sekarang. Berikut adalah beberapa data menarik yang perlu dipahami oleh para pelaku marketing:

  • Keputusan Pembelian: Sekitar 64% konsumen menyatakan bahwa mereka lebih cenderung membeli produk dari suatu brand jika brand tersebut bekerja sama dengan influencer yang mereka sukai dan percayai.
  • Konversi Langsung: Hampir sepertiga konsumen telah melakukan pembelian langsung melalui postingan bersponsor (sponsored post) seorang influencer. Angka ini melonjak tajam pada generasi yang lebih muda, yaitu Gen Z (53%) dan Milenial (48%).
  • Performa Konten: Sebanyak 83% pemasar (marketer) setuju bahwa konten yang dibuat oleh influencer menghasilkan konversi penjualan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan konten promosi yang diunggah langsung oleh akun resmi milik brand.

Hal ini terjadi karena adanya pergeseran cara mencari informasi. Generasi muda saat ini tidak lagi menggunakan Google Search atau mesin pencari tradisional untuk riset produk. Mereka lebih memilih mencari ulasan langsung di TikTok, Twitter/X, atau utas diskusi di forum online. Mereka ingin melihat bagaimana produk tersebut digunakan oleh “orang asli” dalam kehidupan sehari-hari, bukan model iklan di studio foto yang serba diedit.

Strategi Baru: Mengubah Pola Pikir Kolaborasi Brand dan Kreator

Bagi pemilik brand dan pelaku UMKM di Indonesia, tren ini menuntut perubahan strategi dalam memilih influencer yang diajak bekerja sama. Menilai seorang influencer kini tidak bisa lagi hanya berdasarkan jumlah pengikut (followers count) atau estetika visual semata.

1. Utamakan Relevansi dan “Relatability”

Daripada menyewa selebgram papan atas dengan tarif ratusan juta rupiah yang mempromosikan produk Anda dari dalam mobil mewah mereka, cobalah bekerja sama dengan mikro atau nano-influencer. Mereka yang memiliki 5.000 hingga 50.000 pengikut biasanya memiliki kedekatan (engagement rate) yang jauh lebih tinggi dan organik dengan audiensnya.

2. Berikan Kebebasan Berkreasi (Creative Freedom)

Bila Anda memaksakan sebuah skrip iklan yang kaku dan terlalu dipoles ke dalam konten influencer, audiens akan langsung tahu bahwa itu adalah iklan berbayar dan akan segera melewatinya (skip). Biarkan para kreator mengemas produk Anda sesuai dengan gaya unik mereka sendiri. Misalnya, jika gaya mereka adalah membuat konten “tips hemat anak kos”, biarkan mereka menyelipkan produk Anda sebagai solusi hemat di dalam video tersebut.

3. Manfaatkan Konsep “Dupe” dan Solusi Cerdas

Jika produk Anda memiliki kualitas yang setara dengan brand internasional namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau, tonjolkan poin ini. Kampanyekan produk Anda sebagai alternatif cerdas untuk menghemat pengeluaran tanpa harus mengorbankan kualitas.

Ringkasan: Poin Penting Tren Baru Influencer Marketing

  • Pergeseran Fokus: Dari konten aspirasional (pamer kemewahan) beralih ke konten yang realistis, hemat anggaran, dan solutif.
  • Kekuatan Komunitas: Mikro dan nano-influencer kini memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam mendorong penjualan langsung karena dianggap lebih jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari audiens.
  • Mesin Pencari Baru: Media sosial seperti TikTok dan Instagram kini menjadi platform utama bagi konsumen untuk melakukan riset produk sebelum membeli, mengalahkan dominasi Google.
  • Kunci Sukses Kampanye: Fleksibilitas dalam penceritaan (storytelling) dan keaslian ulasan (authenticity) adalah kunci utama agar konten promosi dilirik oleh konsumen yang sadar anggaran.

Tips Praktis untuk Brand dan UMKM Indonesia

Untuk Anda yang ingin segera mempraktikkan tren ini pada bisnis Anda di Tokopedia, Shopee, atau platform e-commerce lainnya, berikut langkah praktis yang bisa Anda lakukan sekarang juga:

  1. Lakukan Riset Kreator Lokal: Cari influencer di daerah target pasar Anda yang aktif membuat konten ulasan jujur. Amati bagaimana cara mereka berinteraksi dengan pengikutnya di kolom komentar.
  2. Fokus pada Value-for-Money: Dalam brief kampanye Anda, tekankan manfaat nyata produk Anda yang bisa menghemat uang atau waktu konsumen. Hindari jargon marketing yang terlalu muluk-muluk.
  3. Gunakan Fitur Affiliate: Ajak influencer bekerja sama lewat program afiliasi (seperti Shopee Affiliate atau Tokopedia Affiliate). Hal ini memberikan insentif bagi mereka untuk membuat konten sekreatif mungkin demi mendapatkan komisi penjualan.
  4. Buat Konten Edukasi, Bukan Cuma Jualan: Gandeng kreator untuk membuat konten tips dan trik yang bermanfaat bagi audiens, di mana produk Anda hadir sebagai solusi alami di dalamnya.

Kesimpulannya, ekonomi memang sedang menantang, namun hal ini justru membuka peluang besar bagi brand yang mampu memosisikan diri sebagai “sahabat hemat” bagi konsumennya. Dengan beralih ke gaya storytelling yang lebih membumi, Anda tidak hanya menghemat anggaran promosi, tetapi juga membangun loyalitas pelanggan yang jauh lebih bertahan lama.

Referensi artikel asli: Klik disini