Siapa yang tidak kenal dengan nama besar Steve Jobs? Sang visioner di balik kesuksesan Apple ini telah mengubah cara dunia berinteraksi dengan teknologi gadget. Namun, alih-alih mengikuti jejak sang ayah di dunia perangkat keras atau raksasa teknologi Silicon Valley, putranya, Reed Jobs, memilih jalan yang jauh berbeda dan sangat mulia: berjuang menyembuhkan penyakit kanker.
Saat diwawancarai, Reed Jobs adalah sosok yang sangat ramah, humoris, senang menggunakan analogi video game, dan sangat mencintai pekerjaannya. Dia tidak terlalu suka membahas statusnya sebagai anak Steve Jobs—meskipun dia juga tidak risi tentang hal itu. Ketika ditanya apakah dia menggunakan MacBook saat melakukan panggilan video, dia langsung menjawab sambil bercanda, “Kamu bercanda, ya? Tentu saja saya pakai!”
Namun, fokus utama Reed bukanlah produk Apple teranyar. Jiwa dan pikirannya sepenuhnya tertuju pada Yosemite, sebuah perusahaan modal ventura (venture capital/VC) yang berfokus pada onkologi (kanker) yang ia dirikan pada tahun 2023. Melalui Yosemite, Reed ingin membangun perusahaan bioteknologi (biotech) dari nol, langsung dari riset akademis awal, menggunakan kombinasi filantropi dan modal investasi eksternal.
Model Bisnis Unik Yosemite: Gabungan Filantropi dan Modal Ventura
Bagi sebagian besar pemodal ventura di Indonesia seperti East Ventures atau AC Ventures, investasi biasanya mengalir ke sektor digital konsumen seperti e-commerce, fintech, atau aplikasi logistik. Namun di tingkat global, Yosemite mengambil ceruk yang sangat spesifik, berisiko tinggi, namun berdampak besar bagi kemanusiaan: onkologi. Sektor kanker ini mencakup hampir 40% dari total industri bioteknologi global.
Yosemite bukan sekadar memberikan dana kepada perusahaan yang sudah mapan. Mereka membuat perusahaan mereka sendiri dari ide-ide mentah di laboratorium universitas ternama dunia seperti Yale, Berkeley, dan Stanford. Untuk meminimalkan risiko di tahap awal riset akademis yang masih sangat sensitif, Yosemite menggunakan pendekatan unik:
- Filantropi Tanpa Syarat: Sekitar 2,5% dari dana kelolaan (AUM) Yosemite disalurkan dalam bentuk hibah (grant) murni kepada laboratorium universitas tanpa ikatan kepemilikan saham sama sekali.
- Investasi Ekuitas: Sekitar sepertiga dari dana investasi (dari target dana kedua sebesar $350 juta atau sekitar Rp5,4 triliun) dialokasikan untuk mendirikan dan membangun startup bioteknologi mereka sendiri bersama para akademisi. Sisa dana lainnya digunakan untuk mendanai startup bioteknologi luar yang potensial.
Teknologi AI Mempercepat Penemuan Obat Kanker
Dunia bioteknologi sempat mengalami penurunan pasca-pandemi Covid-19 karena investor cenderung bersikap konservatif. Namun kini, industri ini kembali bangkit dengan sangat bergairah. Menurut Reed Jobs, ada dua faktor utama di balik kebangkitan ini: kecerdasan buatan (AI) dan habisnya masa paten obat-obatan raksasa (patent cliff).
Penggunaan teknologi AI kini bukan lagi sekadar tren seperti pembuatan konten otomatis di media sosial. Di tangan Yosemite, AI menjadi pilar utama untuk mempercepat penemuan formula obat baru (drug discovery) serta mendesain uji klinis obat agar berjalan lebih efisien, cepat, dan akurat.
Selain itu, industri farmasi raksasa (Big Pharma) saat ini sedang memegang cadangan kas dalam jumlah rekor pasca-pandemi, sementara paten obat-obatan terbaik mereka akan segera habis. Hal ini memicu gelombang akuisisi besar-besaran. Sebagai contoh, Eli Lilly baru-baru ini mengakuisisi Kelonia senilai $7 miliar (sekitar Rp108 triliun). Ada juga Revolution Medicines yang berhasil melipatgandakan tingkat kelangsungan hidup pasien kanker pankreas dari 12 menjadi 24 bulan melalui penargetan gen KRAS.
Dua Startup Kanker yang Bikin Reed Jobs Bangga
Dari sekian banyak investasi yang dilakukan, ada dua perusahaan portofolio yang paling dibanggakan oleh Reed Jobs:
- Azalea: Startup ini lahir langsung dari dana hibah yang diberikan kepada laboratorium milik peraih Nobel, Jennifer Doudna, dan kini obatnya sudah mulai masuk ke tahap uji klinis.
- Quarry: Dibangun bersama penemu serial Craig Crews, startup ini menggunakan pendekatan terapi revolusioner yang disebut induced proximity (kedekatan induksi). Alih-alih mencoba memblokir protein penyebab penyakit secara langsung, obat dari Quarry bekerja dengan cara “menyeret” protein jahat tersebut secara fisik ke sistem pembuangan sel tubuh sendiri agar dihancurkan secara alami.
Bagaimana Indonesia Bisa Meniru Langkah Reed Jobs?
Meskipun ekosistem bioteknologi di Indonesia masih dalam tahap awal perkembangan dibandingkan dengan Silicon Valley, model yang diterapkan oleh Yosemite sebenarnya sangat relevan untuk diadopsi di tanah air.
Indonesia memiliki kekayaan hayati (biodiversity) terbesar kedua di dunia yang sangat potensial untuk bahan baku obat-obatan herbal maupun modern. Namun, riset-riset hebat di universitas top Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), atau Universitas Gadjah Mada (UGM) seringkali berhenti menjadi tumpukan kertas laporan saja karena keterbatasan dana komersialisasi.
Dengan meniru model Yosemite, para pemodal ventura lokal atau bahkan korporasi farmasi besar di Indonesia (seperti Kalbe Farma atau Bio Farma) bisa mulai melirik model kolaborasi antara hibah riset tanpa syarat dan investasi ekuitas untuk membangun startup berbasis sains (deep tech) asli Indonesia.
Tips Praktis Membangun Startup Berbasis Sains & Riset di Indonesia
Bagi Anda para peneliti, mahasiswa kedokteran/farmasi, atau peminat dunia startup kesehatan di Indonesia, berikut beberapa langkah praktis yang bisa Anda lakukan:
- Jangan Takut Memulai dari Hibah (Grant): Manfaatkan program dana hibah dari pemerintah seperti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) atau beasiswa LPDP untuk mematangkan riset awal Anda sebelum mencari investor komersial.
- Gunakan Teknologi AI: Integrasikan kecerdasan buatan dalam riset Anda. Saat ini banyak tools AI gratis dan open-source yang bisa digunakan untuk memprediksi struktur protein atau menganalisis data klinis pasien.
- Bangun Kemitraan Komersial Sejak Dini: Sering-seringlah berkolaborasi dengan inkubator bisnis kampus atau komunitas startup untuk memahami cara mengubah hasil laboratorium menjadi produk yang memiliki nilai jual (market-fit).
- Fokus pada Masalah Lokal yang Belum Terpecahkan: Cari penyakit atau masalah kesehatan yang khas terjadi di Indonesia atau negara berkembang untuk dijadikan fokus utama riset Anda, karena hal ini akan lebih menarik minat investor lokal.
Ringkasan Penting (Key Takeaways)
- Reed Jobs Memilih Jalannya Sendiri: Alih-alih meneruskan imperium Apple, putra Steve Jobs ini mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan kanker melalui Yosemite.
- Model Bisnis Hibrida: Yosemite menggabungkan 2.5% dana kelolaan untuk hibah filantropi tanpa ikatan dengan investasi modal ventura tradisional.
- Fokus pada Onkologi: Yosemite sepenuhnya berfokus pada sektor kanker, mendirikan startup langsung dari riset laboratorium universitas dunia.
- Peran Besar AI: Kecerdasan buatan kini menjadi pilar utama dalam mempercepat penemuan obat kanker dan efisiensi uji klinis.
- Peluang Emas Indonesia: Model bisnis Yosemite dapat menjadi inspirasi bagi akademisi dan VC di Indonesia untuk mengomersialkan hasil riset universitas lokal (seperti UI, ITB, UGM).
Referensi artikel asli: Klik disini